Diskusi buku arsitektur ‘New Regionalism in Bali Architecture by Popo Danes’ karya Imelda Akmal berlangsung sangat hangat di Bentara Budaya Bali pada hari Minggu, tanggal 31 Juli 2011. Acara diskusi kali ini dihadiri oleh banyak tokoh arsitek, budayawan, ahli seni rupa, dan kalangan anak muda. Dengan moderator Bapak Warih Wisatsana, diskusi kali ini menghadirkan tiga pembicara sebagai narasumber, yakni: Imelda Akmal, Popo Danes, dan Dr. Rumawan Salain.
Latar Belakang Pembuatan Buku
Penyusunan buku monograf ini merupakan salah satu impian Mbak Imelda sejak dulu. Karena sudah saatnya, kini arsitek-arsitek Indonesia memiliki sebuah monograf. Saat ini arsitek Indonesia masih jarang sekali menulis monograf, Popo Danes merupakan orang yang pertama di Indonesia menulis monograf. Unutuk menulis monograf, diperlukan suatu kemauan dan konsistensi untuk commit dalam penyusunan buku.
Pembuatan buku ini dimulai dari tahun 2004. Jadi sudah terbilang 6 tahun lama pembuatannya. Di awal penyusunan buku ini, arsitek diminta untuk mengumpulkan karya yang akan ditulis dalam buku, lalu kemudian, dimulailah proses seleksi, setelah seleksi, penulis memfoto karya rancangan satu persatu. Pemotretan adalah salah satu tahapan yang paling memakan waktu lama, karena properti ini bukan lagi milik arsitek setelah ia jadi. Jadi tentu saja harus izin dan koordinasi kepada pemiliknya, sementara Imelda dan tim berada di Jakarta. Jadi selama enam tahun, sudah tidak terhitung, berapa kali bolak-balik JKT-BALI. Setelah pemotretan, sebagai penulis, adalah waktunya untuk memahami dan menyerap kembali karya-karya yang sudah diseleksi, kemudian menggali ide-ide, atau pemikiran apa yang ingin dituangkan dari sebuah rancangan itu. Lalu penulis mencoba mencari suatu teori atau dasar materi penulisan yang bisa menceriminkan atau merefleksikan ide rancangan dari Pak Popo Danes ini. Buku yang dipakai sebagai dasar ialah buku Architectural Regionalism, yang merupakan sebuah kumpulan esai arsitektur dari pemuka arsitektur sampai orang awam. Buku ini menceritakan bahwa regionalism itu, pengertiannya berbeda-beda, tetapi ada benang merah yang bisa ditarik, yaitu tentang TEMPAT, IDENTITAS, MODERNITAS, dan TRADISI.
Satu hal yang paling menonjol yang merupakan kekuatan karya dari Rancangan Popo Danes adalah kemauan yang merupakan kerendahan hatinya untuk mau membaur dengan alam. Penulis banyak sekali menemukan karya rancangan arsitektur kontemporer di Bali, ditempat yang bagus, mencoba menangkap alam yang bagus, pemandangan yang indah, tetapi hasilnya, bangunan itu mematikan alamnya dengan menjadi monumen, menjadi bangunan yang paling menonjol dari alamnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar